Kolaborasi Developer dan Pemilik Lahan Kerap Memicu Konflik
Kerja sama developer dan pemilik lahan kerap memicu konflik yang berujung proyek mangkrak akibat masalah legalitas, perjanjian, dan perencanaan bisnis.
BISNISHEADLINEREAL ESTATE
M. Aditya Prabowo
2/14/20261 min read


Pendahuluan
Bisnis properti dikenal sebagai sektor yang menjanjikan keuntungan besar dan peluang luas bagi para pengembang. Namun, di balik potensi tersebut, tak sedikit proyek perumahan yang terbengkalai bahkan tidak dihuni. Salah satu penyebab utamanya adalah kewajiban developer yang tidak terpenuhi, sehingga kawasan perumahan menjadi terlantar dan tidak terurus. Tulisan ini akan mengulas dinamika kerja sama antara developer dengan pemilik lahan yang kerap memunculkan persoalan.
Akhir-akhir ini, berita tentang proyek perumahan mangkrak semakin sering terdengar. Bangunan berhenti di tengah proses, konsumen kebingungan, developer sulit dihubungi, sementara pemilik lahan ikut menanggung dampaknya. Padahal, pada tahap awal proyek biasanya tampak meyakinkan: konsep menarik, lokasi strategis, serta skema kerja sama yang diklaim saling menguntungkan.
Faktanya, kerja sama lahan bukanlah jalan pintas menuju keberhasilan. Banyak proyek terhenti bukan semata karena kondisi pasar, melainkan akibat kesalahan fundamental dalam perencanaan dan pengelolaan hubungan kerja sama sejak awal. Dari berbagai kasus yang sering terjadi, terdapat pola masalah yang berulang, antara lain:
Perjanjian kerja sama yang disusun terlalu longgar
Status dan legalitas lahan belum sepenuhnya tuntas
Perbedaan visi antara developer dan pemilik lahan
Skema bagi hasil yang terlalu optimistis
Aspek perizinan dan akses lokasi diremehkan
Tidak ada skenario antisipasi jika kerja sama bermasalah
Manajemen proyek yang terlalu percaya diri
Penutup:
Kerja sama dengan pemilik lahan bukanlah solusi instan dalam pembangunan perumahan. Justru pada tahap inilah banyak proyek gagal karena fondasi kerja samanya lemah. Persoalan hukum, benturan kepentingan, serta perhitungan bisnis yang kurang matang dapat menjadi kombinasi risiko yang serius.
Menurut pandangan saya, lebih baik bersusah payah di tahap awal: memastikan legalitas tuntas, menyusun perjanjian secara detail, dan terbuka terhadap potensi risiko. Sebab, ketika proyek sudah berjalan dan melibatkan dana konsumen, kekeliruan kecil di awal dapat berkembang menjadi persoalan besar yang merugikan banyak pihak.
“Pernah menyaksikan atau terlibat langsung dalam proyek perumahan yang mangkrak? Bagikan pengalamanmu di kolom komentar.”
